Mengunjungi Museum Tsunami Aceh

Pertama kali datang ke lokasi ini, hati bertanya-tanya, kira-kira tempatnya seperti apa? Mendengar kata ‘Tsunami’ saja sudah cukup menurunkan mood ini. Jadi ingat bencana besar belasan tahun lalu, Tsunami Aceh, ratusan ribu korban meninggal dunia.

Museum Tsunami Aceh

Dilihat dari luar, bangunan museum tampak megah. Arsitekturnya pun begitu memukau. Aku baru tau ternyata museum ini hasil karya Ridwan Kamil, teman baruku dari Aceh yang memaparkannya. Setelah sampai dan membeli tiket masuk, selanjutnya kami berjalan melewati lorong gelap dengan suara gemercik air penuh nuansa ….. entahlah, susah sekali kujelaskan. Semacam nuansa mencekam dan kesedihan.

Aku memberi nama lorong ini ‘Lorong Sunyi’
Foto by; Kompasiana

Dinding lorong gelap tersebut setelah kupegang ternyata dipenuhi air, dari sini rupanya suara gemercik air yang begitu jelas terdengar itu. Meskipun orang-orang didalam lorong ini cukup ramai, namun tidak ada yang bergeming. Semua hanyut dalam penghayatan suasana mencekam bencana tsunami.

Didalam ruangan, banyak sekali tempat yang begitu menarik untuk dikunjungi. Aku cukup bingung sebenarnya harus mulai dari mana. Namun, aku tertarik memasuki ruangan berbentuk sumur dengan langitnya bertuliskan Asma Allah. Disana dipajang tulisan nama-nama korban bencana tsunami, banyak sekali. Aku menelan ludah sambil sedikit merenung. Begitu mudah Sang Maha Pencipta mengambil kehidupan makhluk ciptaannya. Belum hilang suasana hening ini, aku diajak masuk ke ruang media untuk memonton video dokumenter kejadian tsunami Aceh.

Sebenarnya aku sudah pernah melihat rekaman tsunami Aceh yang dahsyat ini ketika aku masih SD. Namun tetap saja, berkali-kali pun video ini diputar, hati masih tersayat perih. Tangisan, ratapan, reruntuhan bangunan, serta mayat berserakan. Kembali aku menelan ludah. Kudengar teman disebelahku menahan isak tangis. Aku menoleh. Kulihat air matanya telah tumpah. Tidak hanya temanku itu saja yang sedang menahan isak tangis, kudengar ada suara serupa di kursi bagian depan dan belakang. Belakangan aku tahu bahwa anggota keluarganya banyak yang meninggal karena bencana ini. Sedangkan dirinya saat itu sempat terseret ombak, tapi Alhamdulillah masih sempat menyelamatkan diri. Banyak tertelan air laut keruh itu, tambahnya.

Setelah keluar dari sana, aku hanya mondar-mandir tak jelas. Kunyalakan kamera untuk mengambil gambar beberapa spot foto yang kuanggap bagus. Jangan terlalu banyak ambil foto Hen, ucap Ikhsan, teman baruku dari Unimed Medan. Biarkan kita diserang suasana rindu ini, agar kita berjuang, kita harus datang ketempat ini lagi, tambahnya.  Aku terkekeh. Tidak mengiyakan dan tidak membantah. Setelah ke beberapa spot lainnya, kami menuju pintu keluar. Aku dan rombongan bergegas menuju bis yang sudah menunggu, sebelum naik kutatap lagi museum itu, ya, aku akan datang kembali.

Jadi ingat free bagasi 20 kg :D
Pekanbaru-Medan-Aceh-Medan-Pekanbaru
Jadi ingat free bagasi 20 kg 😀
Ikhsan Bayhaqi
Didalam Museum Tsunami Aceh

Iklan

4 respons untuk ‘Mengunjungi Museum Tsunami Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s